Keempat belas, kereta Kyai Manik Retno yang artinya ‘Permata Manis’. Memang manis benar ia, berwarna hitam dengan interior dalam warna merah (warna kesukaan irma J). Kereta ini peninggalan Hamengku Buwono IV. Ia buatan Belanda tahun 1815 dan digunakan untuk pesiar keluarga raja.
Pindah ke ruang tengah yang di seberang nih. Kita akan ketemu dengan kereta kelima belas yang disebut kereta Roto Praloyo atau kereta jenazah. Kereta ini dibuat di Kraton Yogya pada tahun 1938. dari sejak dibuat sampai sekarang kereta ini baru digunakan dua kali. Yaitu pada pemakaman Hamengku Buwono VIII dan Hamengku Buwono IX. Seharusnya kereta ini ditarik oleh 8 ekor kuda putih. Tetapi pada pemakaman Hamengku Buwono IX di tanggal 8 Oktober 2002, karena kesulitan memperoleh kuda putih maka digunakan kuda kraton yang punggungnya ditutupi kain putih. Kereta berjalan dari Kraton ke pemakaman raja-raja di Imogiri dengan jarak tempuh sekitar 20 km. Karena seluruh pengawal berjalan kaki maka perjalanan ditempuh dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore !
Yang keenambelas adalah kereta Kyai Jetayu. Kereta ini buatan Yogya tahun 1931 dan merupakan peninggalan Hamengku Buwono VIII. Dulu kereta ini digunakan untuk putri-putri raja menyaksikan pacuan kuda di alun-alun (sekarang masih ada nggak ya, pacuan macam itu ??). atap kereta bisa dibuka dan ia ditarik oleh 4 ekor kuda. Keunikan dari kereta ini ialah tidak ada tempat kusir, jadi kusir duduk di atas kuda.
Kereta ketujuh belas bernama Kyai Harsunoto. Namanya diambil dari nama Harsuba, tokoh babad legenda. Kereta ini dipesan oleh Hamengku Buwono VI dari Belanda tahun 1870, tapi yang menggunakannya pertama kali adalah Hamengku Buwono VII. Kyai Harsunoto ditarik oleh 4 ekor kuda dan digunakan oleh pangeran atau putra raja dari selir. Karena yang menggunakan putra selir, maka lambang kraton di atas atap nya kecil saja. Putra selir ini tidak dapat menggantikan ayahnya menjadi raja.
Yang kedelapan belas adalah kereta Kyai Wimono Putro, buatan Belanda tahun 1860. Ia peninggalan Hamengku Buwono VI. Dengan ditarik oleh 6 ekor kuda, kereta ini digunakan oleh putra mahkota, calon pengganti raja. Ini adalah kereta kencana sebelum Kyai Garuda Yeksa. Coba lihat di foto sebelah, kelihatan nggak perbedaan lambang kraton di atap Kyai Wimono Putro (kiri) dengan Kyai Harsunoto (kanan) ? Pasti nggak deh, abis kecil sih fotonya hehe … (eh, sorry lagi, fotonya nggak ada di sini ...)
Keluar dari ruang tengah kita akan bertemu dengan tiga kereta yang digunakan untuk antar-jemput tamu mancanegara. Mereka adalah kereta Landower Wisman warna merah maroon, Landower Surabaya warna hitam dan Landower warna hijau (pasti Nani sukanya sama kereta yang terakhir ini deh J). Ketiga kereta ini buatan Spyker Amsterdam tahun 1901 dan merupakan peninggalan Hamengku Buwono VIII. Masing-masing ditarik oleh 4 ekor kuda dan atapnya bisa dilipat. Mungkin aslinya kereta ini bernama Land Rover kali ya. Tapi berhubung lidah Jawa susah nyebutnya jadi namanya berubah menjadi Landower.
Terakhir, kita akan menemui kereta Kyai Notopuro buatan Belanda tahun 1870. Kereta ini peninggalan Hamengku Buwono VIII dan digunakan oleh Manggoloyudo dengan ditarik 6 ekor kuda.
Nah, habis sudah semua kereta diceritain ! Panjang bener ya. Tapi senang jadi bisa tau detilnya. Sekarang kita jalan-jalan keliling museum. Selain kereta, di museum ini juga dipajang benda-benda yang berkaitan dengan kereta dan kuda. Di dinding dipajang foto-foto kereta saat Siraman Pusaka dan pernikahan Putri Pembayun. Pada pernikahan itu digunakan semua kereta yang terletak di luar ruang tengah kecuali kereta Kyai Kutha Kaharjo. Putri Pembayun menggunakan kereta Kyai Jongwiyat dan diiringi kereta-kereta lain. Kata bapak pemandu, pernikahan Putri Pembayun dengan iring-iringan kereta kuda ini lebih menarik daripada pernikahan adiknya yang menggunakan iring-iringan mobil mewah.
Di pojok belakang malah ada replika kuda kraton yang berwarna hitam. Di istal di halaman museum juga ada dua ekor kuda. Kuda-kuda ini digunakan untuk menarik kereta pada upacara Grebeg. Pada saat itu 500 orang prajurit keluar dari kraton untuk melaksanakan upacara di alun-alun lalu berjalan menuju Mesjid Gede. Berbeda dengan kota-kota lain, di Yogya tidak ada Mesjid Agung, adanya Mesjid Gede. Punakawan menggotong gunung-gunungan buah dan sayur yang akan diperebutkan oleh rakyat untuk disimpan di atas pintu rumah sebagai tolak bala. Kita sempat menjenguk kuda-kuda kraton tersebut. Bapak pemandu menawarkan irma untuk memegang seekor kuda yang berwarna hitam berusia sekitar dua tahun. ‘Pegang aja Mbak, nggak apa-apa, jinak kok,’ bapak itu mengelus-elus kepala kuda itu. Haaa… nggak berani L ‘Ayo Ma, lu pegang kudanya gue foto, buat bukti otentik,’ Ela udah siap-siap dengan kameranya. Irma coba beranikan diri. Tapi baru tangan irma terulur, kuda itu melirik dan mendengus. Hiiiii… takut ! Nggak jadi deh ngelusnya. Lihat aja. Heran, padahal waktu kecil dulu kan tiap hari Minggu irma naik kuda di jalan Ganesha depan ITB. Kok udah gede gini malah jadi takut …
Dari museum kereta bapak pemandu tadi mengajak kita lihat-lihat koperasi abdi dalem kraton yang menjual batik. Dari museum kereta kita jalan keluar, belok kiri melewati tukang tambal ban (tukang ini punya dua ekor kucing yang lehernya dikasi tali rapia dan diikat ke roda gerobaknya, seperti anjing peliharaan aja hihi), lalu belok kiri lagi masuk gang. Di koperasi ini dipajang batik-batik buat hiasan dinding. Ada juga dipajang foto-foto Sultan mulai dari Hamengku Buwono III sampai yang terakhir Hamengku Buwono X. Kok dua Sultan yang pertama nggak ada fotonya ? Katanya sih, ini karena kepercayaan orang dulu yang katanya kalo difoto bakalan berkurang umurnya.
Mau beli batik ? Batik-batik di sini ada garansinya. Jadi kalau sebelum 5 tahun batik yang kita beli rusak, kita bisa kembali ke koperasi ini untuk memperoleh gantinya. Asalkan dapat menunjukkan bukti pembeliannya. Di koperasi ini irma sempat berpose pura-pura sedang membatik lalu difoto Tety. Hiiii… jadi malu deh sama pembatik beneran (baca : Tety). Koperasi ini didirikan untuk kesejahteraan abdi dalem. Asal tau aja, bapak yang tadi itu memperoleh gaji dari kraton hanya Rp 6.000,00 setiap bulannya ! Bisa ya, di masa susah seperti ini hidup dengan gaji segitu ??
‘Ya Mbak, yang namanya rezeki sih adaaa aja. Seperti yang mbak-mbak kasih ke saya tadi,’ katanya bapak pemandu museum kereta. Memang kepada museum kita hanya berkewajiban membayar tiket masuk dan izin memotret. Sedangkan tip untuk pemandu diberikan berdasarkan kerelaan. Dengan gaji dari kraton dan pemasukan sampingan sebagai pemandu museum bapak itu berhasil menyekolahkan ketiga putrinya hingga tamat kuliah. Kerja dia sebagai abdi dalem berat juga lho. Tiap hari stand-by di museum dari pagi sampai sore, Senin sampai Minggu. Justru malah di hari libur lebih banyak pengunjungnya.